"Di sini, kami tidak hanya mengajarkan anak-anak membuat komik. Yang didapat lebih banyak. Bisa sharing , belajar bersama di tengah suasana kekeluargaan," tutur Chief Executive Officer Sekolah Komik Pipilaka Yanuar Rahman. Tiap siswa di sini memiliki buku rapor yang berisi evaluasi perkembangan studinya.
Namun, jangan harap ada nilai di sini. Isinya semata adalah catatan dan komentar dari para pengajar. Esensi dari sekolah komik adalah transfer ilmu (teknik) dan juga ide pengalaman. Sehingga, kemmampuan itu tidak terputus antar-generasi, tidak mulai dari nol lagi, tuturnya. Kemampuan-kemampuan ini tentunya tidaklah bisa dikonversi dalam skala nilai .
Namun, bukanlah lantas sekolah komik ini tidak memiliki metoda atau kurikulum. Sejak berdiri Januari 2006, sudah 10 kali Pipilaka berganti metoda. Dahulu, kami pikir kurikulum buat anak-anak dan dewasa sama saja. Ternyata kan tidak. Untuk anak-anak, lebih baik ditekankan pada story teeling (bercerita) dulu. Sulit langsung diajar anatomi, ujar alumnus Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung ini. Sekolah komik ini memiliki beberapa pengajar yang juga komikus profesional, salah satunya Rendra Ridwan, komikus yang sejumlah karyanya diterbitkan penerbit Elex Media Komputindo.
Di Pipilaka, siswa dikelompokkan dalam dua bagian, yaitu kelas kecil (usia 8 -12 tahun ) dan kelas besar (12 tahun ke atas). Untuk kelas besar, siswa betul-betul diarahkan menjadi komikus. Diperkenalkan menggambar anatomi tubuh manusia, balon teks, cara menggali sekenario, dan dasar-dasar pembuatan komik lainnya. Menurut hasil penelitian Ma syarakat Komik Indonesia, umur 14-19 tahun adalah renta usia terbaik belajar komik. Di usia itu, rata-rata mereka telah memiliki bekal kemampuan teknis yang memadai dan sudah bisa menentukan pilihan hidupnya.
Kecintaan dan ketertarikan pada komik. Inilah yang menjadi alasan umum peserta mengikuti sekolah ini. Dari kecil saya suka baca dan buat komik. Dulu belajar otodidak. Di sekolah, saya dapat pengalaman dan akses dengan komikus-komikus lain. Inilah yang tidak ada di luar sekolah, tutur Syahid Noer P. L ukman (20), salah satu siswa sekolah komik. Mahasiswa Antropologi Universitas Padjadjaran ini bercita-cita melakukan suatu penelitian komik dari sudut pandang antropologi. Kocek sebesar Rp 175 ribu per bulan demi belajar di sekolah komik ini pun rela ia k eluarkan.
Sekolah gratis
Demi tujuan regenerasi dan menumbuhkembangkan komik, beberapa penggiat di Bandung pun rela membuka sekolah komik secara cuma-cuma. Ini misalnya dilakukan Comic Managment School Doni Vingky. Menurut Doni Vingky (27), pendirinya, sekolah komik gratis ini didirikan dengan tujuan menyatukan paham tentang industri komik.
Dunia komik itu tidak sekedar persoalan teknis. Kalau teknis semata, nantinya hanya akan jadi kuli-kuli ilustrator, tuturnya. Hal yang tidak kalah penting adalah ca ra membuat komik laku di pasaran dan bagaimana cara memasarkan dan menerbitkannya. Kegiatan belajar di sekolah komik ini dilakukan tiap Minggu pagi di Halaman Kompleks Masjid Salman ITB dengan difasilitasi tiga pengajar yang seluruhnya sukarelawan. Saat i ni, peserta sekolah ini sekitar 20 orang dari berbagai usia.
Alumnus Fakultas Manajemen Universitas Khatolik Parahyangan ini berharap, industri komik di Bandung bisa mengikuti jejak distro dan factory outlet yang tumbuh subur sejak 1996 berkat jaringan pemasaran dan kekuatan basis komunitasnya. Saat ini, ia meyakini, wadah berekspresi, komunitas, serta arahan adalah tiga hal yang dibutuhkan para komikus muda. Semua ini bisa terfasilitasi di sekolah komik.
Di Singapura, di tingkat sekolah siswa telah diajarkan cara membuat komik. Di Jepang, bahkan ada universitasnya. "Apa salahnya di Indonesia dirintis sekolah-sekolah serupa, meski tidak formal," ungkapnya.
Yulvianus Harjono

Tidak ada komentar:
Posting Komentar