Tampilkan postingan dengan label manajemen pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manajemen pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Mei 2009

Menengok Sekolah Berstandar Internasional di Sragen

Rabu, 28 Mei 2008 | 12:16 WIB

Kabupaten Sragen menginjak usianya yang ke-262 tahun tepat tanggal 27 Mei 2008. Dengan usia demikian matang, kabupaten yang memosisikan diri sebagai smart regency ini rajin "menjual" potensi daerahnya. Salah satunya adalah sekolah berstandar internasional yang dirintis sejak dua tahun lalu, yakni di Kecamatan Gemolong dan Kecamatan Karangmalang.

Hingga kini, sudah ada dua angkatan yang bersekolah di jenjang taman kanak-kanak dan sekolah dasar (SD) di dua sekolah berstandar internasional (SBI) itu. Rencananya, mulai tahun ajaran ini di kompleks SBI Gemolong akan dibuka SBI di jenjang sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas yang bekerja sama dengan Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association (Pasiad). Pasiad bertanggung jawab terhadap pendidikan, bimbingan, kurikulum, dan sistem manajemen sekolah.

"Kami ingin agar generasi muda Sragen mampu bersaing. Bahasa Inggris menjadi kunci pintu gerbang persaingan di era global," ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen Gatot Supadi, Selasa (27/5).

SBI menekankan aspek pembelajaran melalui pengalaman dengan tujuan memberi modal kecakapan hidup (life skill) agar siswa mampu kreatif menghadapi hidupnya di masa depan. Misalnya, siswa diajak pergi melihat pembuatan tahu, menanam pohon, dan melihat pembuatan KTP di kecamatan.

SBI di Sragen memakai Kurikulum Nasional Plus X. "Maksudnya, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006, tetapi ditambah dengan pengembangan sesuai standar internasional," ucap Koordinator TK/SD SBI Kroyo, Karangmalang, K Mudo Triasmoro bersama Kepala SBI Kroyo Marjono.

Suasana SBI Kroyo yang berstatus sekolah negeri tidak jauh berbeda dengan sekolah negeri non-SBI. Hanya saja, siswa SBI boleh dibilang lebih "beruntung" karena menyediakan fasilitas lebih lengkap, antara lain ruang kelas multimedia, perpustakaan dengan koleksi buku berbahasa Inggris, dan ruang musik. (SRI REJEKI)


Rejeki, Sri

Selasa, 26 Mei 2009

Pramuka, Siapkan Kader Pemimpin Andal


Senin, 14 April 2008 | 21:37 WIB

CIBUBUR, SENIN - Jika dalam satu dekade terakhir Gerakan Pramuka mengalami kemunduran eksistensi dan kinerja, maka sekaranglah saatnya untuk bangkit. Gerakan Pramuka harus direvitalisasi, untuk ini sudah 14 departemen dan lembaga menyatakan dukungan. Ini penting, karena krisis multidimensi dan globalisasi memunculkan pelbagai masalah di kalangan kaum muda yang dapat mengancam masa depan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault mengatakan hal itu, Senin (14/4) di Cibubur, ketika membuka Latihan Pengembangan Kepemimpinan (LPK) tingkat Nasional, yang diikuti sekitar 60 utusan Dewan Kerja Daerah Pramuka Penegak dan Pandega dari seluruh Indonesia dan juga dari Malaysia.

"Untuk menjadi pemimpin, yang utama bagaimana bisa memberi pengaruh, memberi teladan, dan bekerja keras. Jangan tunda pekerjaan yang bisa dikerjakan hari ini, demikian agama mengajarkan," ujarnya. Revitalisasi Gerakan Pramuka dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 14 Agustus 2006 lalu. Ajakan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono ketika mencanangkan revitalisasi Gerakan Pramuka, yaitu perkuat Gerakan Pramuka sebagai wadah pembangunan karakter bangsa. Raih keberhasilan melalui kerja keras secara cerdas dan ikhlas. Ajak kaum muda meningkatkan semangat bela negara. Mantapkan tekad kaum muda sebagai patriot pembangunan. Utamakan kepentingan bangsa dan negara di atas segalanya. Kokohkan persatuan dan kesatuan negara Republik Indonesia. Dan amalkan Satya dan Darma Pramuka.

Adhyaksa Dault yang berdialog dengan peserta LPK menegaskan, Gerakan Pramuka dalam revitalisasi harus melakukan penguatan organisasi, memperkokoh eksistensi, dan evaluasi kegiatan dengan meningkatkan pelaksanaan peran, fungsi dan tugas pokok gerakan pramuka, terutama yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan pendidikan generasi muda. Anggota Pramuka sebagai pemuda harus mampu menempa diri menjadi pelopor dan teladan bagi yang lain.

Jangan melihat orang lain, jadilah diri sendiri. Banyak potensi yang bisa dikembangkan, misal dalam bidang kepemimpinan, bidang tulis-menulis untuk memberikan sumbangan pemikiran, berprestasi dalam bidang olahraga, kesenian, dan sebagainya. "Habiburrahman, seorang pemuda, yang dalam kondisi sakit, duduk di kursi roda, bisa menulis novel Ayat-ayat Cinta dan kemudian karyanya itu difilmkan. Novel dan film Ayat-ayat Cinta, sangat laris. Karyanya mencerahkan dan fenomenal," Menegpora Adhyaksa menyontohkan.

Sedangkan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Azrul Azwar mengatakan, krisis kepemimpinan yang melanda hampir di seluruh lini kehidupan negeri ini memberikan tantangan pada Gerakan Pramuka untuk mencetak kader pemimpin yang siap menghadapi segala tantangan di masa datang. "Kesinambungan gerak dan langkah Gerakan Pramuka sangat ditentukan dengan tersedianya kader-kader yang andal yang mampu menjawab segala tantangan zaman. Diharapkan Gerakan Pramuka dapat mengorbitkan pemimpin-pemimpin yang dikenal oleh semua kalangan, baik dalam segi karakternya maupun dalam etika akhlak dan berbudi pekerti luhur," ujarnya.

LPK yang dibuka Senin kemarin, berlangsung hingga tanggal 20 April mendatang. Metoda LPK Nasional itu menerapkan proses pembelajaran diri interaktif progresif dan andragogi di dalam ruangan maupun di alam terbuka dalam bentuk dialog, dinamika kelompok, diskusi panel, lokakarya, studi kasus dan pelatihan manajemen di luar ruang.


Yurnaldi

Peranti Lunak Lokal Tumbuh Berkembang


januari 2009 | 18:52 WIB

BANDUNG, KAMIS — Industri peranti lunak lokal di Indonesia, khususnya Kota Bandung, terus tumbuh berkembang. Ini ditandai dengan makin bertambahnya perusahaan pembuat software (independent software vendor/ISV). Konten multimedia kreatif dan e-learning adalah ciri khas keunggulan software-software lokal.

Mengutip data dari International Data Corporation (IDC), pakar rekayasa software Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Romi Satria Wahono, Kamis (8/1), mengatakan, ISV di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 400 buah. Tahun 2006, jumlahnya 250. Sebanyak 50 di antaranya berasal dari Bandung. Jumlah tenaga ahli yang terlibat 72.000 orang.

Pendiri situs pembelajaran www.ilmukomputer.com ini mengatakan, keunggulan software yang dihasilkan ISV lokal ini terutama menyangkut konten-konten multimedia dan animasi yang biasa digunakan sebagai alat bantu pembelajaran ataupun e-learning. Ia mencontohkan software garapan Pesona Edukasi yang berhasil menembus pasar Amerika Serikat dan belahan dunia lainnya.

Ia memandang, kreator-kreator dan arsitek software lokal di Indonesia tidak bisa lagi sekadar mengandalkan produk custom atau berdasarkan proyek-proyek pesanan, baik dari swasta maupun pemerintah. Di lain pihak, peluang software generik, yaitu produk yang bersifat massal, rentan kalah bersaing dengan produsen-produsen ternama dari luar negeri yang lebih dahulu ada.

Tren ke depan yang bisa dikembangkan adalah jenis software at service (peranti lunak berbasis pelayanan berjaringan). Yang dijual itu bukan lagi sekadar produknya, tetapi lebih diarahkan ke pelayanannya. Misalnya, sistem pajak dan akuntansi, ujarnya. Salah satu produsen lokal yang telah mengembangkan software jenis ini adalah Andal. Saat ini, masih sedikit ISV yang berani bermain di sektor ini.

SAS (software at service) inilah yang tengah kami bidik. Ke depannya, software-software jenis inilah yang prospektif. Model yang proprietary (produk berbayar) akan ketinggalan. Sebab, teknologi ke depan itu berbasis kolaboratif, ujar Ardian Febri (25), Managing Director Saklik. Perusahaan bisnis online yang bertempat di Bandung ini kini tengah mengembangkan Medresa, yaitu sistem konten manajemen e-learning. Produk ini adalah satu dari lima pemenang lomba Start Up Bisnis Industri Kreatif Inkubator Industri dan Bisnis (IIB) Institut Teknologi Bandung. Namun, ucapnya, produk berbasis SAS ini sangat membutuhkan dukungan infrastruktur berupa jaringan internet yang sangat baik.

Serap tenaga kerja

Pengamat teknologi informasi dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB Budi Rahardjo saat dihubungi terpisah mengatakan, jumlah produsen software lokal maupun tenaga ahlinya masih terbilang minim. Idealnya, pada 2010, jumlahnya (produsen) itu sudah ribuan. Dalam kerangka BHTV (Bandung High Tech Valley), idealnya di 2010 itu ekspor software di Indonesia mencapai Rp 8 miliar, tuturnya.

Menurut penelitian IDC, dari estimasi tumbuhnya 1.100 perusahaan baru di tahun mendatan g, sektor kreatif ini bisa menyerap 81.000 tenaga kerja baru. Industri teknologi informasi ini pun akan menyumbangkan USD 1,1 miliar. Syaratnya, jika dikelola serius. Namun, kenyataannya, beberapa software house (ISV) di Bandung masih hidup - mati. Ada yang mati, muncul lagi yang lain, ucapnya.

Persoalan daya saing dan modal adalah kendala utamanya. Belum lagi, persoalan krisis finansial global. Dan, kecenderungan masih tingginya angka pembajakan software saat ini. License Compliance Manager PT Microsof t Indonesia Anti S Suryaman mengungkapkan, tingkat pembajakan di Indonesia saat ini mencapai 84 persen. Indonesia menempati posisi ke-12 besar pembajakan software di dunia.

Di sisi lain, Indonesia pun harus berlapang dada menyadari kondisi banyaknya tenaga ahli yang dibajak luar negeri. Ketua Kelompok Keahlian Rekayasa Software dan Data ITB Hira Laksmiwati Zoro mengatakan, lulusan berperstasi dari Teknik Informatika ITB banyak yang memilih bekerja di luar negeri. Produsen software di dalam negeri belum memberi peluang cukup menjanjikan untuk mereka.


Yulvianus Harjono

Moodle, Sistem Manajemen Pembelajaran Online





Moodle adalah sistem manajemen pembelajaran yang dirancang untuk membantu pendidik yang ingin membuat materi pembelajaran online yang berkualitas. Perangkat lunak ini digunakan di seluruh dunia oleh universitas-universitas, sekolah-sekolah, perusahaan hingga guru-guru independen. Moodle bersifat open source dan sepenuhnya gratis untuk digunakan.

Untuk memasyarakatkan penggunaan moodle sebagai salah satu pilihan Learning Content Management System (LCMS), MiniLab pun mempersiapkan dirinya untuk memberikan pengetahuan dasar penggunaan moodle bagi para guru dan praktisi pendidikan lainnya.

Pertemuan dilakukan sebanyak 6 kali dengan materi-materi antara lain :

  1. Online Learning Introduction
  2. Course and Activity Design
  3. Quiz Activities
  4. Lesson Activities
  5. Add-on Modules and Plug-ins

Untuk tingkat lanjutan :

  1. Engaging with Online Learning and Community Building
  2. Encouraging and Engaging with Reflective Learning (activities and models)
  3. Multimedia and Course Design
  4. Personal/Professional Development Planning
  5. Activity Specific Workshops
  6. Technical and Administrative


Untuk tingkat dasar investasi pembelajaran sebesar Rp. 100.000.-, sedangkan tingkat lanjutan sebesar Rp. 150.000,-

Hari belajar dapat dipilih. Untuk detail waktu belajar dapat dilihat disini

Mari belajar Moodle, dan mulai membuat materi pelajaran Online

Salam,

MiniLab Yayasan Rumah Ilmu Indonesia

http://minilab.rumahilmuindonesia.net

Belajar Jurus Komik Lewat Sekolah


/Sabtu, 29 November 2008 | 19:29 WIBDUNIA perkomikan di Indonesia memasuki masa generasi keempat . Dahulu kita mengenal tokoh perintis komik macam Ganes Th dengan karya Si Buta dari Goa Hantu-nya (1968) di masa keemasan komik lokal. Berganti generasi, komik lokal pun timbul tenggelam.Alih generasi dan kontinuitas karya. Demikian salah satu persoalan yang muncul di dunia perkomikan tanah air saat ini. Atas pengalaman inilah sekolah-sekolah atau tempat kursus komik pun mulai bermunculan. Salah satunya, Sekolah Komik Pipilaka. Kenapa dinamakan sekolah?

"Di sini, kami tidak hanya mengajarkan anak-anak membuat komik. Yang didapat lebih banyak. Bisa sharing , belajar bersama di tengah suasana kekeluargaan," tutur Chief Executive Officer Sekolah Komik Pipilaka Yanuar Rahman. Tiap siswa di sini memiliki buku rapor yang berisi evaluasi perkembangan studinya.

Namun, jangan harap ada nilai di sini. Isinya semata adalah catatan dan komentar dari para pengajar. Esensi dari sekolah komik adalah transfer ilmu (teknik) dan juga ide pengalaman. Sehingga, kemmampuan itu tidak terputus antar-generasi, tidak mulai dari nol lagi, tuturnya. Kemampuan-kemampuan ini tentunya tidaklah bisa dikonversi dalam skala nilai .

Namun, bukanlah lantas sekolah komik ini tidak memiliki metoda atau kurikulum. Sejak berdiri Januari 2006, sudah 10 kali Pipilaka berganti metoda. Dahulu, kami pikir kurikulum buat anak-anak dan dewasa sama saja. Ternyata kan tidak. Untuk anak-anak, lebih baik ditekankan pada story teeling (bercerita) dulu. Sulit langsung diajar anatomi, ujar alumnus Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung ini. Sekolah komik ini memiliki beberapa pengajar yang juga komikus profesional, salah satunya Rendra Ridwan, komikus yang sejumlah karyanya diterbitkan penerbit Elex Media Komputindo.

Di Pipilaka, siswa dikelompokkan dalam dua bagian, yaitu kelas kecil (usia 8 -12 tahun ) dan kelas besar (12 tahun ke atas). Untuk kelas besar, siswa betul-betul diarahkan menjadi komikus. Diperkenalkan menggambar anatomi tubuh manusia, balon teks, cara menggali sekenario, dan dasar-dasar pembuatan komik lainnya. Menurut hasil penelitian Ma syarakat Komik Indonesia, umur 14-19 tahun adalah renta usia terbaik belajar komik. Di usia itu, rata-rata mereka telah memiliki bekal kemampuan teknis yang memadai dan sudah bisa menentukan pilihan hidupnya.

Kecintaan dan ketertarikan pada komik. Inilah yang menjadi alasan umum peserta mengikuti sekolah ini. Dari kecil saya suka baca dan buat komik. Dulu belajar otodidak. Di sekolah, saya dapat pengalaman dan akses dengan komikus-komikus lain. Inilah yang tidak ada di luar sekolah, tutur Syahid Noer P. L ukman (20), salah satu siswa sekolah komik. Mahasiswa Antropologi Universitas Padjadjaran ini bercita-cita melakukan suatu penelitian komik dari sudut pandang antropologi. Kocek sebesar Rp 175 ribu per bulan demi belajar di sekolah komik ini pun rela ia k eluarkan.

Sekolah gratis

Demi tujuan regenerasi dan menumbuhkembangkan komik, beberapa penggiat di Bandung pun rela membuka sekolah komik secara cuma-cuma. Ini misalnya dilakukan Comic Managment School Doni Vingky. Menurut Doni Vingky (27), pendirinya, sekolah komik gratis ini didirikan dengan tujuan menyatukan paham tentang industri komik.

Dunia komik itu tidak sekedar persoalan teknis. Kalau teknis semata, nantinya hanya akan jadi kuli-kuli ilustrator, tuturnya. Hal yang tidak kalah penting adalah ca ra membuat komik laku di pasaran dan bagaimana cara memasarkan dan menerbitkannya. Kegiatan belajar di sekolah komik ini dilakukan tiap Minggu pagi di Halaman Kompleks Masjid Salman ITB dengan difasilitasi tiga pengajar yang seluruhnya sukarelawan. Saat i ni, peserta sekolah ini sekitar 20 orang dari berbagai usia.

Alumnus Fakultas Manajemen Universitas Khatolik Parahyangan ini berharap, industri komik di Bandung bisa mengikuti jejak distro dan factory outlet yang tumbuh subur sejak 1996 berkat jaringan pemasaran dan kekuatan basis komunitasnya. Saat ini, ia meyakini, wadah berekspresi, komunitas, serta arahan adalah tiga hal yang dibutuhkan para komikus muda. Semua ini bisa terfasilitasi di sekolah komik.

Di Singapura, di tingkat sekolah siswa telah diajarkan cara membuat komik. Di Jepang, bahkan ada universitasnya. "Apa salahnya di Indonesia dirintis sekolah-sekolah serupa, meski tidak formal," ungkapnya.


Yulvianus Harjono

Unpad Wisuda 45 Doktor


BANDUNG, SELASA - Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung mewisuda 45 Doktor baru dari berbagai disiplin ilmu pada sidang terbuka Senat Universitas dipimpin Rektor Unpad Prof Dr Ir Ganjar Kurnia DEA di Aula Graha Sanusi Harjadinata kampus Dipati Ukur Bandung, Selasa.

Wisuda 45 Doktor baru merupakan rangkaian dari prosesi wisuda gelombang I tahun akademik 2008/2009 yang dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut hingga Kamis(27/11).

Jumlah seluruh lulusannya yang diwisuda sebanyak 2.420 orang, dari Program Doktor, Program Maguster, Program Spesialis I, Program Profesi, Program Sarjana, Program Diplomas III dan Program Diploma IV Kebidanan.

Para wisudawan terbaik untuk Program Doktor atas nama Ito Sumardi dari Ilmu Hukum dengan IPK 4,00, untuk Program Magister Ahmad Saifudin dari Ilmu Kedokteran Dasar dengan IPK 3,95, Program Spesialis I Rika Kartika dari Kebidanan dan Penyakit Kandungan IPK 3,64, Program Profesi Widia Hafsyah Sumarlina Ritonga dari Profesi Kedokteran Gigi dengan IPK 3,90.

Untuk Program Sarjana masing-masing Utami Dewi Harianingsih dari Ilmu Pemerintahan IPK 3,97 dan Yulia Susanti dari Ilmu Komunikasi IPK 3,97, Program Diploma III Dimitri Damayanti dari Manajemen Informatika IP 3,82, serta Program Diploma IV Kebidanan Melly Damayanti dari Kebidanan Pendidikan IPK 3,66.

Sedangkan lulusan program S1 tercepat Utami Dewi Harianingsih dari Program Studi Ilmu Peternakan dengan waktu tiga tahun satu bulan, dan Program Diploma III Iwan Ruswandi dari Program Studi Manajemen Agribisnis yang telah berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu dua tahun 10 bulan.

Wisudawan termuda Dewinta Maharani Putri Kuswhara dari Program Studi Manajemen yang lulus pada usia 20 tahun empat bulan, dan Tasya Safiranita dalam usia 20 tahun tiga bulan 26 hari.

Rektor Unpad Prof Dr Ir Ganjar Kurnia DEA menyatakan, prosesi wisuda merupakan tanda dari berakhirnya proses pembelajaran yang dijalani seorang mahasiswa selama pendidikannya.

Menurut Rektor, keberhasilan wisudawan bukan hanya bukti keberhasilan dirinya sendiri tapi ada investasi, bantuan, proses yang melibatkan keluarga, dosen, tenaga kependidikan, masyarakat, dan pemerintah.

Dikatakannya, selain dari biaya orang tua, selama pendidikannya seorang wisudawan telah menerima subidi yang sangat besar dari dana masyarakat melalui pemerintah. Menurut perhitungan Dikti pada tahun 2008 biaya untuk menghasilkan lulusan yang bermutu, minimal sebesar Rp 30 juta/orang/tahun.

Ia mengatakan, walaupun dana pendidikan dari pemerintah akan sesuai dengan amanah UUD 1945 yaitu sebesar 20 persen dari total APBN mulai tahun 2009, namun tambahan tersebut belum dapat memenuhi standar biaya yang dikeluarkan oleh Dikti.

"Untuk itu kami masih mengharapkan bantuan dari orang tua, melalui SPP dan biaya pengembangan, karena secara keseluruhan biaya terkumpul baru mencapai 70 persen dari kebutuhan nasional," ucap Ganjar Kurnia.


EDJ
Sumber : Ant

Ada yang Tertarik Jadi Ahli Statistik?

Jumat, 15 Mei 2009 | 11:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) kembali membuka kesempatan bagi siswa-siswi terbaik lulusan SMA yang bermotivasi tinggi untuk dididik menjadi ahli statistik. Pendaftaran baru dibuka pertengahan bulan depan untuk menyeleksi 300 mahasiswa tahun ajaran 2009/2010.

Dikelola oleh Badan Pusat Statistik (BPS), STIS merupakan perguruan tinggi kedinasan program D-IV. Visi dan misinya adalah menjadi lembaga pendidikan tinggi kedinasan yang berfungsi mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan di bidang statistik dan komputasi statistik dengan mendidik siswa-siswi sebagai kader yang memiliki kemampuan akademik dan profesional.

Di tempat ini, para mahasiswa bisa mengambil peminatan atau jurusan yang terdiri dari Statistika (Ekonomi dan Sosial Kependudukan) dan Komputasi Statistik. "Di jurusan Statistika para mahasiswa dididik menjadi tenaga ahli statistik ekonomi dan statistik sosial kependudukan, sedangkan di jurusan Komputasi Statistik mereka dipersiapkan sebagai tenaga-tenaga ahli komputasi statistik dan sistem informasi," ujar Rifa Rufiadi Msi, Kepala Bagian Administrasi STIS.

Sebagai pendukung mutu pembelajaran, kurikulum pendidikan di STIS dirancang sesuai perkembangan ilmu ekonomi, kependudukan, sosial, manajemen dan teknologi informasi. Proses dan metode pembelajarannya ditekankan pada pengembangan keterampilan di bidang statistik dan komputasi statistik, yang diasuh oleh para pengajar lulusan perguruan tinggi dalam dan luar negeri dengan jenjang S2 dan S3.

Dengan demikian, lulusan-lulusan STIS diharapkan mampu menjadi tenaga ahli yang mumpuni dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian, membuat berbagai analisis di bidang sosial-ekonomi, serta merencanakan dan mengembangkan sistem informasinya.

Syarat dan Ketentuan

Tahun lalu, menurut Rifa, jumlah lulusan SMA/Sederajat yang mengikuti seleksi mencapai 12.000 siswa/siswi untuk memperebutkan 300 kursi. "Tahun diperkirakan bisa lebih dari itu, mungkin mencapai tiga belas ribu untuk sekitar 300 kursi," ujar Rifa.

Sebagai syarat utamanya, selain siswa/siswi harus lulusan SMA/Sederajat dari jurusan IPA, nilai mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris pada rapor kelas XII semester I dan II pun harus mencapai angka 7, 0. Pendaftaran mengikuti seleksi tahun ajaran 2009/2010 ini dikenakan biaya sebesar Rp225.000.

Selama kuliah nanti, para mahasiswa akan mendapatkan tunjangan ikatan dinas sesuai aturan pemerintah yang berlaku. Setelah lulus nanti, para mahasiswa mendapat gelar Sarjana Sains Terapan (S.S.T.).

Selain gelar, mahasiswa juga langsung diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) golongan III A - BPS. Mereka akan ditempatkan di lingkungan BPS di seluruh Indonesia sampai dengan tingkat Kabupaten/Kota untuk melakukan berbagai kegiatan survey statistik di lapangan.

Tertarik dan punya motivasi tinggi?

Pendaftaran seleksi STIS tahun ini mulai dibuka pada 15 Juni 2009 mendatang. Pendaftaran ditutup pada 17 Juli untuk pendaftar di wilayah Jakarta dan 10 Juli untuk pendaftar dari daerah. Lebih jelasnya, syarat pendaftaran, cara pendaftaran, serta tahapan seleksi bisa dilihat di download brosur PMB 2009 (310KB) atau menghubungi Kampus STIS Jakarta di telepon (021) 8191437/8508812.

Murid SMP Terbuka Terkendala Lanjutkan Sekolah


Senin, 4 Agustus 2008 | 21:16 WIB

JAKARTA, SENIN -Para murid Sekolah Menengah Pertama (SMP) Terbuka terkendala melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Berdasarkan data Departemen Pendidikan Nasional, sebagian besar dari mereka yakni 93,8 persen tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi.

"Mereka terganjal kondisi sosial dan ekonomi yang kurang menguntungkan itu," ujar Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo ketika membuka Kegiatan Lomba Motivasi Belajar Mandiri Siswa SMP Terbuka Tingkat Nasional 2008, Senin (4/8). Lantaran banyaknya murid SMP Terbuka yang tidak melanjutkan sekolah, Bambang Sudibyo menegaskan, agar murid diberikan ketrampilan dan kecakapan hidup, selain materi akademis. Dengan bekal ketrampilan tersebut, mereka dapat bekerja atau bahkan membuka usaha sendiri kelak.

SMP Terbuka merupakan upaya memberikan kesempatan belajar kepada anak usia SMP yang belum terlayani SMP Reguler. SMP Terbuka termasuk jalur pendidikan formal. Peserta didik di SMP Terbuka mempunyai kondisi khusus, seperti terpencil secara geografis, tidak mampu secara ekonomi, dan membantu orangtua bekerja. Murid SMP Terbuka belajar menggunakan modul dan media belajar lainnya di tempat kegiatan belajar seperti di tempat ibadah, rumah penduduk atau balai desa, atau SMP Induknya. Waktu belajar mereka fleksibel dan tidak ada iuran sekolah.

Saat ini, terdapat 2.576 SMP Terbuka dengan Tempat Kegiatan Belajar sebanyak 10.365 lokasi. Jumlah siswa sebanyak 306.749 orang. Mereka dilayani 30.763 guru bina di sekolah induk dan 16.671 guru pamong yang mendampingi pembelajaran siswa sehari-hari di tempat kegiatan belajar. (INE)


Indira Permanasari S

211.643 Siswa SMP Putus Sekolah Tiap Tahun

Selasa, 18 Maret 2008 | 00:37 WIB

Jakarta, Kompas – Setiap tahun sekitar 211.643 siswa SMP dan madrasah tsanawiyah atau MTs di berbagai pelosok Tanah Air putus sekolah karena sejumlah faktor. Selain itu, sekitar 452.000 tamatan SD dan madrasah ibtidaiyah atau MI tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Suyanto mengatakan hal itu dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (17/3).

Menurut Suyanto, salah satu penyebab tingginya angka putus sekolah adalah di kalangan masyarakat yang masih miskin, siswa secara ekonomi menjadi tulang punggung keluarga. ”Jika anak pergi ke sekolah, penghasilan keluarga menjadi menurun karena berkurangnya sumber pencari nafkah,” katanya.

Selain itu, ada pula persoalan kultur, yakni motivasi menyekolahkan anak yang masih rendah. Di sisi lain, ketersediaan fasilitas di beberapa daerah juga masih minim sehingga anak membutuhkan waktu lama menuju sekolah yang lokasinya jauh.

Wajib belajar

Suyanto mengatakan, melihat tingginya angka putus sekolah, terutama di kalangan siswa SMP/MTs, program wajib belajar sembilan tahun memang tidak mudah diterapkan. Padahal, tahun 2008 merupakan tahun terakhir pencapaian target penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun.

Terkait dengan penuntasan itu pula, Menteri Pendidikan Nasional bersama Menteri Agama, bupati dan wali kota, kepala dinas pendidikan provinsi, serta kepala dinas pendidikan kabupaten dan kota akan mendeklarasikan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun pada Selasa ini.

Menurut dia, sampai akhir 2007, angka partisipasi murni SD/MI sederajat sebesar 94,90 persen. Angka partisipasi murni adalah rasio murid SD berusia 7-12 tahun terhadap penduduk kelompok umur 7-12 tahun.

Adapun angka partisipasi kasar SMP/MTs sederajat sebesar 92,52 persen. Angka partisipasi kasar adalah rasio jumlah siswa yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia tersebut.

Menurut Suyanto, hingga saat ini masih terdapat 111 kabupaten/kota yang belum menuntaskan wajib belajar sembilan tahun.

Persoalan lainnya adalah terkait minimnya sarana yang sangat berhubungan dengan kualitas pendidikan. Misalnya, masih terdapat sekitar 200.000 ruang kelas SD yang rusak dan 12.000 ruang kelas SMP yang rusak. Di tingkat SMP/MTs, sebanyak 34,3 persen sekolah belum mempunyai perpustakaan dan 38,2 persen sekolah tidak memiliki laboratorium.

Madrasah juga mengalami hal serupa. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama Muhammad Ali mengatakan, saat ini 91,5 persen madrasah berstatus swasta. Dengan demikian terdapat variasi standar, mulai dari perekrutan, pembelajaran, hingga fasilitas.

”Kami sudah berupaya dengan memberikan bantuan-bantuan kepada madrasah swasta, seperti bantuan laboratorium dan bantuan buku,” ujarnya.

Suyanto mengatakan, guna mengatasi persoalan belum tercapainya program wajib belajar, pemerintah telah berupaya antara lain membangun unit sekolah baru dan mengaitkan kuliah kerja nyata di kalangan mahasiswa dengan program-program penuntasan wajib belajar. Selain itu dilakukan pula pengucuran bantuan operasional sekolah, pelibatan organisasi masyarakat, serta pembangunan model sekolah satu atap antara SD dan SMP. (INE)

Menengok Sekolah Berstandar Internasional di Sragen


Rabu, 28 Mei 2008 | 12:16 WIB

Kabupaten Sragen menginjak usianya yang ke-262 tahun tepat tanggal 27 Mei 2008. Dengan usia demikian matang, kabupaten yang memosisikan diri sebagai smart regency ini rajin "menjual" potensi daerahnya. Salah satunya adalah sekolah berstandar internasional yang dirintis sejak dua tahun lalu, yakni di Kecamatan Gemolong dan Kecamatan Karangmalang.

Hingga kini, sudah ada dua angkatan yang bersekolah di jenjang taman kanak-kanak dan sekolah dasar (SD) di dua sekolah berstandar internasional (SBI) itu. Rencananya, mulai tahun ajaran ini di kompleks SBI Gemolong akan dibuka SBI di jenjang sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas yang bekerja sama dengan Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association (Pasiad). Pasiad bertanggung jawab terhadap pendidikan, bimbingan, kurikulum, dan sistem manajemen sekolah.

"Kami ingin agar generasi muda Sragen mampu bersaing. Bahasa Inggris menjadi kunci pintu gerbang persaingan di era global," ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen Gatot Supadi, Selasa (27/5).

SBI menekankan aspek pembelajaran melalui pengalaman dengan tujuan memberi modal kecakapan hidup (life skill) agar siswa mampu kreatif menghadapi hidupnya di masa depan. Misalnya, siswa diajak pergi melihat pembuatan tahu, menanam pohon, dan melihat pembuatan KTP di kecamatan.

SBI di Sragen memakai Kurikulum Nasional Plus X. "Maksudnya, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006, tetapi ditambah dengan pengembangan sesuai standar internasional," ucap Koordinator TK/SD SBI Kroyo, Karangmalang, K Mudo Triasmoro bersama Kepala SBI Kroyo Marjono.

Suasana SBI Kroyo yang berstatus sekolah negeri tidak jauh berbeda dengan sekolah negeri non-SBI. Hanya saja, siswa SBI boleh dibilang lebih "beruntung" karena menyediakan fasilitas lebih lengkap, antara lain ruang kelas multimedia, perpustakaan dengan koleksi buku berbahasa Inggris, dan ruang musik. (SRI REJEKI)


Rejeki, Sri

Senin, 16 Maret 2009

Pendidikan Indonesia Tak Ajari Siswa Wirausaha

Sumber : KOMPAS, Rabu, 25 Februari 2009 | 20:44 WIB


SLEMAN, RABU - Proses pendidikan di negeri ini tidak mendidik orang mempunyai cukup bekal berwirausaha. Itu karena siswa dan mahasiswa jarang sekali disentuhkan dengan beban risiko, ambiguitas, dan ketidakpastian, yang notabene adalah kenyataan hidup.

Hal itu disampaikan pengajar Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang juga mantan rektor UAJY Slamet S Sarwono, Rabu (25/2), dalam diskusi Menjawab Tantangan Global Dari Jogja Melalui Nilai Budaya Imlek, di UAJY.

Siswa dan mahasiswa mengejar nilai, dosen gampang memberikan nilai A dan B, dan orang tua puas jika rapor dan prestasi akademik anaknya bagus. "Hasil angka yang bagus, tak mendidik anak untuk punya mental bagus kala menghadapi risiko," ujarnya.

Slamet bercerita bahwa ketika ia mengambil gelar doktor di luar negeri, pernah melihat sejumlah temannya yang pulang tanpa membawa gelar. "Di sini, ketika orang mengambil gelar doktor, pasti dapat. Tapi di universitas-universitas luar negeri, belum tentu," ujarnya.

Pegawai negeri sipil (PNS) di luar negeri, kualitasnya jauh dibanding PNS Indonesia. PNS di Kantor Imigrasi Malaysia misalnya, sigap dan aktif melayani. Tak heran jika negara itu maju . Bukan karena penduduknya sedikit maka negaranya maju, tapi karena karakter dan mental warga di sana sudah terbentuk sejak di bangku sekolah, katanya.

Sementara di Indonesia, status sebagai PNS yang mendudukkan orang menjadi tenaga kerja dengan beban kerja nyantai, tanpa parameter pengawasan ketat, dan tanpa resiko dikeluarkan dari pekerjaan, membuat PNS amat kurang punya mental melayani dan berwirausaha.


PENELITIAN PEMBELAJARAN VISIONER: Pemecahan Masalah Masa Depan

Topik penelitian pembelajaran berpikir dan pemecahan masalah mendapat perhatian besar dari para peneliti bidang psikologi pada tahun 1980-an. Perhatian tersebut didasarkan pada adanya perubahan dan tantangan yang cepat dalam masyarakat yang memerlukan manusia berkemampuan memecahkan masalah (Bransford, dkk., 1986; Marzano, dkk., 1988; Marzano, Pickering, dan McTighe, 1993). Jika kemampuan memecahkan masalah telah diperoleh, seseorang tidak hanya dapat menyelesaikan masalah serupa, akan tetapi juga diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari (Gagne, 1985; Gagne, 1977; 1985; Bransford, Sherwood, dan Reiser, 1986; Siegler, 1991).

Penelitian ini sangat urgen dilakukan untuk menyediakan temuan empirik bagi upaya peningkatan kualitas pembelajaran di perguruan tinggi. Topik pembelajaran berpikir dan pemecahan masalah mendapat perhatian besar dari para peneliti bidang psikologi pada tahun 1980-an. Perhatian tersebut didasarkan pada adanya perubahan dan tantangan yang cepat dalam masyarakat yang memerlukan manusia berkemampuan memecahkan masalah (Bransford, dkk., 1986; Marzano, dkk., 1988; Marzano, Pickering, dan McTighe, 1993). Jika kemampuan memecahkan masalah telah diperoleh, seseorang tidak hanya dapat menyelesaikan masalah serupa, akan tetapi juga diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari (Gagne, 1985; Gagne, 1977; 1985; Bransford, Sherwood, dan Reiser, 1986; Siegler, 1991).

Dengan mengacu pada pernyataan tersebut di atas, penelitian yang akan dikembangkan lebih lanjut oleh peneliti dalam ruang lingkup yang berkaitan dengan “Program Pemecahan Masalah Masa Depan” (Future Problem Solving Program), dengan dimensi-dimensi: Pengembangan Model Pedidikan, Pembelajaran, dan Pelatihan, Pengembangan Kurikulum, Pengembangan Sumber Belajar/Bahan Ajar Multi Media, Pengembangan Strategi Pembelajaran, Pengembangan Alat Evaluasi, Pengembangan berpikir kreatif, Berpikir kritis dan analitis, Pengembangan keterampilan komunikasi verbal dan tulisan, Strategi pemecahan masalah, Memecahkan masalah kesenjangan kehidupan sekolah dengan dunia nyata. Ruang lingkup dan tema tersebut perlu dikembangkan untuk semua kelompok bidang studi, misalnya: Pembelajaran Berbasis Masalah Matematika, Biologi, Fisika, Ilmu-ilmu Sosial, Bahasa, Agama, Pendidikan Jasmani dan Olahrara, dan sebagainya.

Kegiatan penelitian pembelajaran dengan domain khusus pemecahan masalah ini sudah dilakukan oleh peneliti sejak tahun 1996 sampai sekarang. Puncak kegiatan yang secara intensif berkaitan dengan penelitian pembelajaran pemecahan masalah adalah penelitian disertasi untuk menyelesaikan pendidikan doktor (S3). Berikut adalah judul-judul penelitian yang telah dilakukan berkaitan dengan topik penelitian ini sebagai berikut.

  1. Kapabilitas pemecahan masalah matematika siswa sekolah dasar di Kodya Malang. Dana DIP IKIP Malang. Ketua. (1996)

  2. Survey Model Strategi Pembelajaran pada Kelas/ Sekolah Unggulan Sekolah Dasar di Jawa Timur. Tahun Pertama. Penelitian Hibah Bersaing VII/1 Dirbinlitabmas, Ditjendikti. Ketua. (1998, 1999, 2000)

  3. Kajian Teoretik Perilaku Mengajar, Sikap Guru di Kelas dan kapabilitas Pemecahan Masalah Siswa Sekolah Dasar. Penelitian Dasar dari Dirbinlitabmas Ditjendikti. Anggota kelompok. (1999).

  4. Proses Pemecahan Masalah Soal Cerita siswa SD Kelas Tiga. Disertasi. (2001).

  5. Proses Pemecahan Masalah Soal Cerita Siswa Sekolah Dasar Kelas Tiga (Disertasi). Mandiri. (2001)

  6. Pengembangan Pembelajaran Matematika Berbasis Masalah Melalui Computer-Based Instruction Siswa Kelas Unggulan SD. Tahun Pertama. Penelitian Hibah Bersaing X/1 Dirbinlitabmas, Ditjendikti. Ketua. (2002, 2003, 2004)

  7. Evaluasi Program Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat di Indonesia. Penelitian didanai oleh Balitbang dan Unesco. Anggota Peneliti. 2005.

  8. Evaluasi Program Kemitraan Kepala Sekolah: Manajemen, Pembelajaran, dan Partisipasi Masyarakat. Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen PMPTK. 2006.

  9. Evaluasi Program Manajemen Berbasis Sekolah: Manajemen, Pembelajaran, Pemberdayaan Masyarakat. Badan Perencanaan nasional. 2006.

Tema penelitian berkaitan dengan program pemecahan masalah masa depan masih sangat terbuka, mengingat tema penelitian ini masih berupa hutan belantara di Indonesia. Oleh karena itu, kami mengajak rekan sejawat peneliti dan dosen perguruan tinggi di Indonesia untuk bersama-sama mengkaji tema tersebut melalui kerjasama penelitian.

Penelitian yang sedang dilakukan adalah mengembangkan Model Pembelajaran Visioner yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M) Ditjen Dikti Depdiknas tahun 2008, ini akan membangun jembatan antara konteks pembelajaran yang bersifat teaching-based, instructor-mediated ke arah konteks pembelajaran yang bersifat learning-based. Keuntungan yang akan diperoleh melalui penelitian ini terutama untuk menyediakan sumber-sumber belajar bagi mahasiswa yang berpeluang untuk mengembangkan setiap individu mencapai kemampuan optimal dalam memecahkan masalah masa depan.


Pendidikan yang Menyesatkan

Jumat, 2 Mei 2008 | 00:26 WIB
Darmaningtyas

Praksis pendidikan nasional kian kering dan cenderung menyesatkan. Hal itu karena terlepas dari proses kebudayaan dan lingkungan sosial yang ada.

Substansi pendidikan sebagai upaya memerdekakan manusia (Ki Hadjar Dewantara) atau sebagai proses pemanusiaan manusia (Driyarkara) justru terabaikan oleh berbagai persoalan teknis, manajerial, dan birokrasi. Padahal, ketiga masalah itu seharusnya hanya menjadi penopang substansi pendidikan, bukan sebaliknya. Tetapi, perhatikan pidato birokrat pendidikan di negeri ini, semua hanya bicara masalah teknis-manajerial.

Fenomena tragis itu bermula dari istilah yang dikembangkan dunia pendidikan berasal dari istilah manajemen industri/ekonomi. Istilah-istilah itu terus diproduksi, lalu menjadi wacana dan secara substil membentuk watak baru institusi maupun praksis pendidikan nasional.

Istilah ekonomi

Awalnya istilah ”SDM” (sumber daya manusia) yang diadopsi mengganti kata ”manusia”. Istilah ini banyak dipakai sejak Wardiman Djojonegoro menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Para Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebelumnya jarang menggunakan istilah itu. Kata SDM hanya digunakan dalam konteks ekonomi saja.

Dalam wawancara pribadi (1998), Fuad Hassan menjelaskan, istilah manusia itu lebih kompleks dan multidimensi daripada SDM yang lebih bersifat ekonomis dan dapat dieksploitasi. Mengganti kata manusia dengan SDM sama dengan mereduksi harkat kemanusiaan.

Penggunaan istilah SDM sejalan dengan konsep pendidikan link and match. Pada kurun waktu yang sama, demam globalisasi mewabah dan menjangkiti pejabat Indonesia, terlebih sejak KTT APEC di Bogor (1994). Penggunaan kata SDM diiringi kata-kata: unggul, nilai tambah, kompetensi, kompetisi, pasar, daya saing, dan lainnya. Berbagai pidato pejabat selalu merangkai kata-kata ”menyiapkan SDM yang memiliki kompetensi unggul atau nilai tambah untuk berkompetisi atau bersaing di pasar global”. Sejak itu, terminologi di korporasi menjadi terminologi sah dunia pendidikan nasional.

Reformasi politik (Mei 1998) bukan mengoreksi, justru memperkaya kekeliruan. Istilah manajemen industri yang diadopsi konsultan dan birokrat pendidikan bertambah banyak, seperti Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), produktivitas, sertifikasi, standardisasi, standar nasional, standar internasional, Sertifikat ISO, Dewan Audit, dan Majelis Wali Amanah.

Bersamaan penambahan istilah manajemen, kian kuat pula upaya pembentukan watak atau karakter institusi/praksis pendidikan menjadi korporasi, yang diikuti perubahan mindset orang- orang di dalamnya. Praksis pendidikan lalu tidak mengarah kepada pencerdasan dan pemerdekaan bangsa, atau pemanusiaan manusia, tetapi lebih melayani kepentingan pemilik kapital. Kebijakan maupun substansi pendidikan yang dikembangkan pun cenderung memperkaya ekonomi maupun budaya negara pemilik kapital dengan memiskinkan (ekonomi maupun budaya) bangsa sendiri.

Pembelajaran bahasa asing sejak TK dan SD demi standar internasional merupakan bentuk kolonialisasi atas bahasa dan budaya lokal yang seharusnya dikembangkan oleh praksis pendidikan. Demikian pula mengukur kemajuan pendidikan hanya dari satu unsur juga amat menyesatkan karena mengabaikan aspek ketahanan pangan, papan, sandang, dan budaya. Kenyataannya, manusia dapat hidup tanpa teknologi informasi asal ketahanan pangan, sandang, papan, dan budayanya terjaga.

Gejala praksis pendidikan yang menyesatkan itu juga tampak dari berbagai kebijakan. Demi efisiensi, misalnya, bidang-bidang studi humaniora atau agro yang sedikit peminat harus ditutup. Sulit membayangkan bila suatu nanti Jurusan Pedalangan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta harus tutup karena dinilai tidak efisien dan jumlah mahasiswanya lebih sedikit dari jumlah dosennya.

Praksis pendidikan sebagai proses kebudayaan seperti diletakkan Ki Hadjar Dewantara hilang sama sekali, itu terlihat dari perubahan nama dari Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah menjadi Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Namanya bertambah panjang, tetapi cakupannya kian sempit karena sebatas manajerial saja.

Melegitimasi kekeliruan

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjadi pedoman pelaksanaan pendidikan nasional justru melegitimasi kekeliruan cara berpikir yang mengarah pembentukan korporasi pendidikan. Gagasan UU Sisdiknas adalah untuk membentuk korporasi pendidikan. Banyak pasal dalam UU Sisdiknas mengamanatkan pentingnya sertifikasi, standardisasi (nasional dan internasional), pembentukan badan hukum, dan hal-hal di luar pendidikan.

Istilah ”guru” tidak lagi ditemukan lagi dalam UU Sisdiknas karena diganti kata ”pendidik”. Padahal, dalam bahasa Sanskerta, guru lebih dari pengajar. Seorang guru adalah ahli, konselor, saga, sahabat, pendamping, dan pemimpin spiritual. Etimologi esoterik dari istilah guru menggambarkan metafora peralihan dari kegelapan menjadi terang. Jadi, guru bermakna seseorang yang membebaskan dari kegelapan karena ketidaktahuan dan ketidaksadaran (Anita Lie, 2008).

Keberadaan Rancangan Undang-undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP) akan kian menyesatkan karena substansi RUU BHP lebih menyangkut tata kelola lembaga pendidikan yang diarahkan mengikuti tata kelola korporasi. Seluruh istilah yang dipakai dalam pasal RUU BHP adalah istilah korporasi sehingga bila disahkan menjadi UU, otomatis membentuk watak lembaga pendidikan identik dengan korporasi. Atas dasar itu, RUU BHP tidak layak disahkan menjadi UU BHP dan harus ditolak. Praksis pendidikan harus dikembalikan sebagai proses kebudayaan dengan cara mengembalikan terminologi yang dipakai/dikembangkan adalah terminologi pendidikan dan kebudayaan, bukan terminologi manajemen korporasi.

Darmaningtyas Pengurus Majelis Luhur Taman Siswa di Yogyakarta

Sekolah sebagai Tempat Pencerdasan Anak Bangsa

Rabu, 2008 Desember 17

Pada bahasan yang lalu kita telah membahas tentang pendidikan keluarga. Setelah pendidikan setelah keluarga kita akan menghadapi pendidikan sekolah. Di lihat dari posisinya, pendidikan sekolah berada diantara pendidikan keluarga dan pendidikan masyarakat. Posisi demikian mengandung arti bahawa pendidikan sekolah berperan sebagai penyebar, pencerdasan, dan penerapan nilai budaya (transmission ) nilai-nilai cultural (spiritual kemanusian) yang telah membenih didalam kehidupan keluarga ke dalam kedalam setiap aspek hidup dan kehidupan.

Artinya bahwa peran pendidikan sekolah wajib mengolah benih nilai moral-spritual kemanusian dari keluarga menjadi kecerdasan intelektual. Adapun kecerdasan intelektual mengandung isi nilai kebenaran yang bersifat rasional, logika dan empirical. Menurut berbagai pendapat bahwa orang terdidik yang cerdas daya inelektualnya (educated person). Orang terdidik berarti ahli, menguasai suatu bidang studi (competent), mempunyai daya kreativitas dan inisiatif dengan kemampuan mengembangkan asumsi-asumsi dan pendapat-pendapat untuk kemudian disusun menjadi sebuah teori yang benar dalam lingkup bidang studinya.

Teori yang benar adalah terukur atau ada indikator baik secara rasional maupun empiric. Oleh sebab itu, ilmuwan bukan hanya ahli menyusun teori saja, tapi juga harus mampu dan mau mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Itu berarti ilmuwan dituntut untuk menjalankan suatu sikap dan perilaku ilmiah (sesuai dengan teori keilmuwannya itu). Sikap dan perilaku ilmiah secara konkret dapat berwujud dalam perilaku jujur dan adil. Itulah sebabnya mengapa ilmuwan juga dituntut untuk cakap (capable) dan terampil (skillful) dalam mengamalkan ilmunya didalam kehidupan sehari-hari. Jika setiap ilmuwan bersikap dan berperilaku ilmiah, diharapkan mereka menjadi model percontohan bagi masyarakat luas.

Perlu kiranya bagaimana lembaga pendidikan sekolah mengelola system pembelajaran untuk membangun sumber daya manusia yang cerdas intelektual, ilmiah, yaitu ahli dalam bidangnya, cakap, terampil, mandiri, kereatif, berbudi pekerti luhur dan jujur atau adil dalam bersikap dan berperilaku. Untuk mencapai sasaran itu, sedikitnya dua hal yang harus dipersiapkan, yaitu materi pem-belajaran dan pengelolaanya.

Pertama, materi pembelajaran perlu diorganisasikan da-lam bentuk kurikulum, dan disusun secara berjenjang me-nurut sasaran-sasaran konkret. Pengorganisasian kurikulum disusun berdsarkan pada sistem penjenjangan pendidikan sekolah, yaitu pendidikan dasar (9 tahun), menengah (3 tahun), dan pendidikan tinggi (4 tahun). Untuk jenjang pendidikan dasar, organisasi kurikulum disusun dengan sasaran utama pembinaan keterampilan hidup (life skil).

Cakup materi pembelajaran yang dominant pada muatan lokal merupakan intisari dari potensi lingkung-an sosial budaya dan lingkungan alam daerah setempat. Untuk jenjang pendidikan menengah, sasaran utamanya adalah pembinaan kecakapan hidup (life ability). Cakupan materi pem-belajaran tetap dominan pada muatan lokal, tapi perlu diperluas. Sedangkan kurikulum pendidikan tinggi sasaran utamanya adalah pembinaan kecerdasan hidup (life educated). Cakupan materi pembelajaran dominan pada muatan nasional bahkan internasional.

Kedua, sistem organisasi administrasi manajemen pendidikan perlu direkonstruksi, dengan lebih melibatkan potensi masyarakat. Artinya, pengelolaan pendidikan sekolah dilakukan bersama antara sekolah dan masyarakat. Pemerintah, dalam hal ini Departemen pendidikan, berperan sebagai fasilitator dan tidak perlu campur tangan terlalu jauh.

Pengelolaan pendidikan dikembalikan kepada sekolah itu sendiri, dengan sistim otonomi sekolah. Untuk itu, organisasi “Komite Sekolah” perlu disusun kembali berdasarkan pada filosofi bahwa pendidikan sekolah adalah institusi sosial, dari masyarakat, oleh, dan untuk masyarakat. Oleh sebab itu, komite sekolah perlu dilibatkan dalam segala usaha peningkatan mutu pendidikan, misalnya kepengawasan dalam batas tertentu dan khususnya masalah penghimpunan biaya pendidikan.

Kemudian, manajemen pembelajaran perlu diper-baharui pola dasarnya dengan orientasi sentral pada subjek pembelajar (student centred orientation). Model pola pembelajaran demikian diharapkan dapat memerankan pembelajaran secara aktif, sehingga potensi kreativitas dapat dieksplorasi secara optimum. Untuk itu, diperlukan pembimbing atau guru yang kompeten dan sistem administrasi manajemen pendidikan yang demokratik-partisipatif. Di samping itu, untuk menunjang kelancaran belajar, perlu ketersediaan sarana yang memadai.

Jika organisasi kurikulum dan system manajemen pembelajaran tersebut dapat diselenggarakan, diharapkan dapat dihasilkan luaran yang berkualitas dalam hal kecerdasan intelektual, kecerdasan sikap, dan kecerdasan perilakunya. Secara akumulatif, kualitas luaran dimaksud adalah pribadi terdidik yang cerdas, cakap, terampil, mandiri, dan memiliki daya kreativitas tinggi untuk pembaruan kehidupan masyarakatnya.

GURU YANG SEJAHTERA DAN PROFESIONAL AKAN

MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN

Pembelajaran Masih Bersifat Pemenjaraan Tidak Hargai Ide Kreatif Siswa


YOGYAKARTA, KOMPAS - Praktik pembelajaran di sekolah masih merupakan "praktik pemenjaraan" bagi peserta didik. Ini karena sekolah terlalu mengondisikan kegiatan pembelajaran dengan norma perilaku tertentu yang bersifat represif, menekan, dan evaluatif.

"Pendidikan pun menjadi sekadar mengajarkan peserta didik dengan pengetahuan konvensional dan menanamkan nilai atau moral pada peserta didik tanpa ada keteladanan. Secara umum, guru enggan mendorong siswa untuk mandiri, terlalu memaksakan ide dan kehendak, kurang menghargai ide-ide kreatif siswa," papar Dr Wahid Munawar, pakar pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia Bandung dalam seminar bertema "Pengembangan Profesi Guru Berbasis Moral dan Kultur", Kamis (11/5), di Universitas Negeri Yogyakarta.

Disampaikannya, praktik pendidikan yang represif telah menyimpang dari prinsip hakiki pendidikan, yaitu perhatian pada martabat manusia, karena dengan pendidikan diharapkan akan dihasilkan pribadi yang beradab, berbudaya, damai, dan antikekerasan. "Jadi, pendidikan haruslah berbasis hati nurani. Artinya, guru haruslah individu yang memiliki integritas moral tinggi, karena guru harus menjadi role model bagi anak didik dan masyarakatnya," katanya.

Menurut Wahid, lembaga tenaga kependidikan sebagai penghasil calon guru perlu mengembangkan pendidikan afeksi guna menghasilkan calon guru yang humanis. Pendidikan afeksi berdasarkan humanis, lanjutnya, adalah proses pengembangan seluruh sisi afektif meliputi pendidikan sikap, etika kepercayaan, perasaan, estetika, seni, kemanusiaan, moral dan nilai. "Hasil belajar afeksi tidak dapat dicapai dengan metode ceramah saja," ucapnya.

Dr Anik Ghufron, dosen Fakultas Ilmu Pendidikan UNY, mengemukakan peran guru sebagai fasilitator dan motivator seperti tertulis dalam Undang-undang Guru dan Dosen harus benar-benar bisa diterapkan. Ini untuk membantu dan memudahkan peserta didik dalam belajar. "Guru tidak merupakan satu-satunya sumber belajar, melainkan berperan sebagai salah satu sumber belajar," tuturnya.

Dikatakan, dalam melaksanakan perannya, guru harus mengetahui dan mampu menerapkan teknologi belajar, yakni teori dan desain praktik, pengembangan, manajemen, serta evaluasi proses dan sumber daya pembelajaran. "Teknologi pembelajaran sangat penting bagi pengembangan mutu pendidikan, namun sayangnya tidak semua guru memahami apa teknologi pembelajaran itu," ujarnya. (RWN)